Weekly Perspective - W1 March 2019

Tidak ada kesepakatan dalam pertemuan antara Amerika dan Korea Utara

  • Pertemuan antara Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) yang berlangsung tanggal 27-28 Februari 2019 di Hanoi Vietnam tidak menghasilkan kesepakatan seperti yang dieskpektasikan oleh para pelaku pasar. Gagalnya kesepakatan yang dicapai dalam pertemuan tersebut menurut pihak AS karena Korut ingin agar semua sanksi ekonomi dicabut seluruhnya, sedangkan AS ingin agar pencabutan sanksi ekonomi dilakukan secara bertahap sampai dengan akhir tahun 2019. Meskipun belum tercapai kesepakatan di antara kedua negara tersebut, namun terdapat hal positif yang terjadi di dalam pertemuan tersebut diantaranya komitmen dari pemimpin Korut Kim Jong Un bahwa proses denuklirisasi akan terus dilakukan serta tidak akan ada uji coba nuklir lagi kedepannya dan Trump meyakini akan ada pertemuan lanjutan antara AS dan Korut lagi kedepannya membahas proses denuklirisasi.
  • Tim negosiator perang dagang antara AS dan China yang dipimpin oleh Mentri Perdagangan AS Larry Kudlow dan Wakil Perdana Mentri China Liu He menyatakan bahwa draft perjanjian damai antar kedua negara sudah hampir selesai dan rencananya akan ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping pada Akhir Maret 2019 di Washington DC. Isi perjanjan tersebut memuat beberapa point diantaranya:

  1. China setuju untuk menurunkan bea masuk produk pertanian, kimia dan otomotif dari AS;
  2. China Menghapus batas kepemilikan asing di bidang industri mobil dan menurunkan bea impor kendaraan dibawah 15%;
  3. AS akan menghapus seluruh sanksi tarif impor yang diberikan kepada China.

  • Positifnya pembicaraan kedua negara akan memberikan sentimen positif bagi pasar saham dan obligasi global maupun domestik kedepannya dimana isu perang dagang selama ini selalu menjadi salah satu faktor ketidakpastian global. 


Inflasi Februari 2019 sebesar 2.57% terendah sejak bulan November 2009

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumukan bahwa tingkat inflasi bulan Februari 2019 sebesar 2.57% secara year on year (YoY) yang merupakan level terendah sejak November 2009 dan deflasi sebesar -0.08% secara month to month (MtM). Sepanjang bulan Februari 2019 komoditas bahan makanan yang mengalami penurunan harga diantaranya daging ayam, cabe, ikan dan buah-buahan, sedangkan yang mengalami kenaikan diantaranya beras, mie instan dan bawang. Bahan makanan memiliki bobot paling besar dalam perhitungan inflasi sehingga adanya penurunan pada bahan makanan dapat menyebabkan terjadinya deflasi.


Pergerakan IHSG cenderung sideway didorong oleh penurunan tipis Rupiah

  • Selama sepekan terakhir periode (25 Februari – 01 Maret 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tipis sebesar -0.02% ditutup di level 6,499.88 setelah mengalami kenaikan di minggu sebelumnya. Penurunan IHSG diikuti oleh investor asing yang membukukan net sell selama week to date sebesar Rp -1.00 triliun meskipun secara year to date masih membukukan net buy sebesar Rp 8.20 triliun. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar selama sepekan terakhir yaitu Consumer Goods +2.31%, infrastructure +1.08%, Manufacturing +0.49% dan Property +0.43%. Sedangkan yang mengalami penurunan diantaranya Agriculture -4.63%, Miscellaneous Industry -4.16%, dan Mining -2.73%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalami kenaikan sebesar +0.34% dampak dari menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar. Hal ini juga sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 7.90% menjadi 7.80%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 28 Februari 2019 investor asing membukukan net buy secara year to date sebesar Rp 42.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 935.00 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi di bulan Maret 2019 masih akan positif didorong oleh besarnya total bid pada lelang SUN tanggal 26 Februari 2019 yang merupakan tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp 93.25 triliun dan yang dimenangkan oleh Pemerintah sebesar Rp 25.00 triliun.
  • Portfolio Reksa Dana Saham kembali melakukan akumulasi pembelian saham-saham blue-chip dan mid-cap yang telah mengalami koreksi dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure, dan Mining. Reksa Dana Obligasi kembali melakukan akumulasi pada SUN benchmark seri panjang tenor 15 dan 20 tahun secara bertahap serta durasi portfolio dinaikkan ke level 6.50 – 7.00. Alokasi Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas market dan memaksimalkan Return Reksa Dana.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list