Weekly Perspective - W1 July 2019

Amerika Serikat sepakat untuk tidak memberikan tarif impor terhadap barang China

  • Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyampaikan kepada Presiden China Xi Jinping dalam KTT G-20 di akhir Juni 2019 bahwa tidak akan mengenakan tarif tambahan untuk produk impor dari China serta memperbolehkan perusahaan telekomunikasi China kembali beroperasi di AS.  Trump juga mengatakan perundingan akan kembali dilanjutkan selama bulan Juli baik di Washington maupun Beijing. Pelaku pasar merespon dengan positif pernyataan Trump karena di dalam jangka pendek tidak ada pengenaan tarif tambahan untuk China, namun dalam jangka menengah dan panjang hal tersebut bergantung pada perundingan kedua negara. 

Negosiasi lanjutan AS dan China memberikandampakpositif pasar saham dan obligasi

  • Selamasepekanterakhirperiode (24 – 28 Juni 2019) IndeksHargaSahamGabungan (IHSG) kembalimelanjutkankenaikansepertitigaminggusebelumnyasebesar +0.68% ditutup di level 6,358.62. Kenaikan IHSG selamasepekanterakhirdipengaruhisentimendari global dan domestikdiantaranyapernyataandari Trump di sela-selakonferensi G-20 bahwa AS tidakakanmengenakantariftambahanuntukbarangimpordari China sehinggamemberikansentimenpositifbagiemerging market sehinggamembuatnilaitukar Rupiah menguatterhadap USD dari level Rp 14,220 /USD ke level Rp 14,110 /USD. SedangkandarisisidomestikkeputusanMahkamahKonstitusimemenangkan Jokowi-Maruf Amin memberikankepastianuntukpelaku pasar terkaitkebijakanPemerintahkedepannyadalamhalpembangunanekonomi dan infrastruktur. Kenaikan IHSG sejalandengan investor asing yang membukukannet buy selamaweek to date sebesarRp +1.00 triliun dan Rp +2.40 triliunsecarayear to date. Sektor yang mengalamikenaikanterbesardiantaranyaMining +4.42% diikuti oleh Infrastructure +1.71%, Finance +1.13% dan Trade Services +0.71%.  Adapunsektor yang mengalamipenurunanterbesardiantaranyaConsumer Goods -1.02 diikuti oleh Property -1.00%, Agriculture -0.88% dan Manufacturing -0.35%.
  • Sedangkanuntuk pasar obligasidomestikharga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) juga mengalamikenaikansejalandengan pasar sahamsebesar +0.68% selamatigamingguberturut-turutdariakhirbulan Mei 2019 setelahadanyaupgrade rating darilembagapemeringkatStandard and Poor’s (S&P) terhadapperingkat utang Indonesia satunotch dari BBB- (investment grade) menjadi BBB sertakondisipolitikdalam negeri yang mulaistabilpascakeputusan MK terkaitsengketapilpres. Kenaikanhargaobligasisejalandenganpergerakanyield SUN 10 tahun yang mengalamipenurunansecarasignifikandari level yield 7.36% menjadi 7.30%. Pergerakan pasar obligasi di bulanJuli 2019 masihdidorong oleh faktor global sepertiperundinganlanjutanterkaitperangdagangantara Amerika dan China yang akanberlangsung di sepanjangbulanJuli 2019 dan darisisidomestikperbaikancurrent account deficit akanmenjadiperhatiandari investor asingmaupunlokalkedepannya. Berdasarkan data dariDirektoratJendralPembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 26 Juni 2019 investor asingmembukukannet buy secaramonth to date sebesarRp +38.00 triliun dan secarayear to date jugamembukukannet buy sebesarRp +94.00 triliun di pasar obligasidomestikdariposisiakhirDesember 2018 sebesarRp 893.20 triliunmenjadi 987.20 triliun.
  • MahkamahKonstitusi (MK) pada tanggal 27 Juni 2019 telahmembuatkeputusanyaitumenolakseluruhpermohonan yang diajukan oleh Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dalamsengketaPilpres 2019 sehinggapasangan Jokowi - Maruf Amin menjadiPresiden dan Wakil Presidenterpilihperiode 2019 – 2024. Denganadanyaputusan MK makaketidakpastianpolitikakanberakhir dan pelaku pasar akanberfokusbagaimanamelihatstrategiPemerintahkedepan yang berfokusdalammenjagapertumbuhanekonomi, pembangunaninfrastruktur dan kebijakanfiskal.
  • Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasibulanJuni 2019 sebesar 0.55% secaraMonth to Month (MtM) dan 3.28% secaraYear on Year (YoY). Kenaikanhargakomoditas dan bahanmakananmenjadipendoronginflasi di Juni 2019 sepertikelompokbahanmakanan 1.63%, kelompoksandang 0.90%  dan kelompokmakananjadi 0.66%. 
  • Portfolio Reksa Dana Sahammelakukanakumulasipembelian pada saham-sahamkhususnyablue-chip dan mid-cap yang sebelumnyamengalamikoreksidengansektorpilihandiantaranyaFinance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Mining sertameningkatkanalokasi portfolio di level 90 – 93% untukmemaksimalkan Return Portfolio. Reksa Dana Obligasiakanmelakukanprofit taking untukseribenchmarksecarabertahapsertadurasi portfolio mulaiditurunkankedurasi 6.00 – 6.50. AlokasiObligasiKorporasi tenor pendek (3 tahun) dengankupon yang tinggidijagauntukmenahanvolatilitas market dan memaksimalkanReturn Reksa Dana.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list