Weekly Perspective - W1 February 2019

FOMC Meeting Januari 2019 memutuskan fed fund rate tetap di 2.50%

  • Federal Open Market Committee Meeting (FOMC Meeting) yang berlangsung tanggal 30 Januari 2019 menghasilkan keputusan bahwa The Fed akan tetap mempertahankan fed fund rate di level 2.50% . Hal penting lainnya yaitu pernyataan yang sangat jelas dari Jerome Powell selaku Chairman The Fed bahwa di tahun 2019 The Fed monetary policy akan lebih moderat (dovish) dalam menaikkan tingkat suku bunga dibandingkan di tahun 2018 yang begitu agresif (hawkish). Powell menjelaskan bahwa pertumbuhan inflasi akan menjadi indikator penting bagi kebijakan The Fed kedepannya.
  • Data US-Non Farm Payroll (NFP) di bulan Januari 2019 tumbuh sangat tinggi sebesar 304 ribu (est konsensus: 165 ribu) meskipun data NFP di bulan Desember 2018 direvisi pertumbuhannya dari 312 ribu menjadi 222 ribu. Peningkatan di bulan Januari 2019 bersumber dari bertambahnya pertumbuhan lapangan kerja di bidang hiburan, konstruksi, transportasi dan layanan kesehatan. Adapun data unemployment rate mengalami kenaikan tipis dari 3.90% menjadi 4.00%.

Inflasi Januari 2019 merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir

  • Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa inflasi di bulan Januari 2019 sebesar +0.32% (Jan 18: 0.62% dan Jan 17: 0.97%) merupakan inflasi yang terendah di bulan Januari selama 3 tahun terakhir, adapun secara year on year inflasi sebesar 3.00% (Jan 18: 3.25%). Menurunnya angka inflasi disebabkan tidak adanya gejolak kenaikan harga beras serta stabilnya harga pangan seperti harga telur dan daging ayam.
  • Bank Indonesia akan mengumumkan data Gross Domestic Product (GDP) Q4 2018 dan GDP 2018 pada hari Rabu 6 Februari 2019. Estimasi konsensus dari berbagai ekonom menyebutkan bahwa GDP Q4 2018 sebesar 5.15% (Q3 2018: 5.17%) dan GDP di tahun 2018 sebesar 5.15%. Konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi, namun pertumbuhan ekspor masih dibawah pertumbuhan impor sehingga hal ini menjadi perhatian serius Pemerintah di tahun 2019.

Penguatan nilai tukar Rupiah memberikan sentimen positif di pasar saham dan obligasi

  • Selama sepekan terakhir periode (28 Januari – 01 Februari 2019) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami kenaikan sebesar +0.86% ke level 6,538.63 melanjutkan kenaikan yang terjadi dari awal Januari 2019 sehingga secara year to date IHSG mengalami kenaikan +5.62%. Kenaikan IHSG sejalan dengan investor asing yang membukukan net buy sebesar Rp 12.70 triliun selama year to date disertai nilai tukar Rupiah yang menguat dari level Rp 14,050 / USD menjadi Rp 13,980 / USD. Sektor yang mengalami kenaikan terbesar diantaranya Finance +1.97%, diikuti oleh Mining +1.90%, Infrastructures +1.22% dan Consumer Goods +0.72%. Adapun sektor yang mengalami penurunan yaitu sektor Property -2.30%, Agriculture -0.50% dan Trade Services -0.35%.
  • Sedangkan untuk pasar obligasi domestik harga Surat Utang Negara (SUN) yang mengacu pada Bloomberg Indonesia Local Sovereign Bond Index (BINDO) mengalami kenaikan yang signifikan sebesar +1.45% pasca pernyataan The Fed untuk lebih berhati-hati dalam menaikkan FFR di tahun 2019. Hal ini sejalan dengan pergerakan yield SUN 10 tahun yang mengalami penurunan dari level yield 8.10% menjadi 7.87%. Berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) per tanggal 30 Januari 2019 investor asing membukukan net buy secara month to date sebesar Rp 9.00 triliun di pasar obligasi domestik dari posisi akhir Desember 2018 sebesar Rp 893.20 triliun menjadi 902.30 triliun. Kami melihat pergerakan pasar obligasi masih akan positif kedepannya didorong oleh stabilnya makroekonomi global seperti The Fed yang lebih moderat serta arah pembicaraan trade war antara Amerika dan China akan lebih positif serta dari sisi domestik tingkat inflasi yang dijaga oleh Pemerintah dan menguatnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar karena capital inflow akan membuat posisi current account deficit membaik.
  • Portfolio Reksa Dana Saham akan melakukan profit taking dan menjaga posisi netral pada portfolio namun tetap berfokus pada saham - saham blue chip dan mid-cap dengan beberapa sektor pilihan diantaranya Finance (Banking), Consumer, Infrastructure dan Miscellaneous Industry. Reksa Dana Obligasi akan menaikkan durasi portfolio dari durasi 5.50 menjadi 6.00 – 6.50 dengan melakukan overweight pada SUN seri benchmark FR78 tenor 10 tahun agar outperformed terhadap pergerakan yield SUN. Alokasi pada Obligasi Korporasi tenor pendek (3-5 tahun) dengan kupon tinggi tetap dijaga untuk menahan volatilitas pergerakan market dan memaksimalkan Return Portfolio Reksa Dana.


DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list