Weekly Perspective - W1 February 2018

Global Equity Sell-off with High Volatility

  • Setelah mencatatkan kenaikan yang cukup tinggi hingga akhirJanuari 2018 lalu, memasuki awal Februari 2018 ini pasar saham global mengalami koreksi tajam. Indeks saham AS (Dow Jones Index) mengalami penguatan sebesar 5,79% selama ytd akhirJanuari 2018, namun hanya dalam hitungan hari hingga 5 Febr 2018 ini mengalami penurunan sebesar -6,9%. Walaupun dalam 1 hari terakhir sudah kembali rebound +2,33% per  6 Febr 2018, namun kami menilai volatilitasnya masih cukup tinggi. Apalagi dengan kenaikan harga saham yang sudah mencapai +38,9% sejak terpilihnya Trump di bulan Nov 2016, sehingga cenderung rawan profit taking.
  • Sell off tajam di pasarsaham global ini didorong oleh beberapa factor yakni meningkatnya kekhawatiran dan perhatian pelaku pasar akan arah normalisasi (kenaikan) bunga The Fed seiring data ekonomi AS yang terus menunjukkan peningkatan. Baik dari aktivitas produksi (PMI index) yang bertahan pada level 55,5 (level ekspansi), penambahan jumlah non farm payroll sebesar 200k (diatas periode sebelumnya 200k) dan level inflasi yang bertahap mengalami peningkatan. Kekhawatiran pasar sudah terlihat dari pergerakan yield US Treasury yang terus mengalami kenaikan dari awal Jan 2018 sebesar 2,40% menjadi 2,79% per 6 Februari 2018.

Bagaimana Pasar Meresponnya ?

  • Sejalan dengan koreksi di pasar saham AS, indeks saham Euro, Jepang dan emerging market lainnya turut mengalami koreksi masing-masing sebesar -3,6%, -1,8% dan -3,6% (MSCI Emerging Market Index) hingga 5 Febr 2018 mtd. Adapun IHSG turut mengalami koreksi namun relative rendah dibandingkan negara lain sebesar -1,9%, bahkan LQ45 Index justru mengalami kenaikan +0,11%. Walaupun tekanan outflow dari pasar saham mencapai Rp 4 Triliun selama mtd namun kami menilainya masih cukup wajar. 
  • Pasar obligasi juga turut mengalami koreksi, dengan penurunan indeks Abtrindo sebesar -0,24% selama mtd. Adapun INDON mengalami penurunan lebih besar dengan rata-rata sebesar -0,72%, dimana pergerakan yield INDON lebih sejalan dengan pergerakan yield UST. Sehingga kenaikan yield UST lebih besar dampaknya pada INDON, dibandingkan SUN. Investor asing mencatatkan net sell sebesarRp 380 juta, dibandingkan bulanJanuari 2018 lalu yang mencatatkan net buy sebesar Rp 34 Triliun.
  • Mata uang Rupiah mengalami pelemahan sebesar -1,0% dari level Rp 13.389/USD menjadi Rp 13.525/USD. Pelemahan ini sejalan dengan pelemahan mata uang negara lain terhadap USD. Dimana setelah Dollar Index melemah cukup tajam sejak terpilihnya Trump sebesar 11%, mulai terlihat rebound tipis +0,47% per 5 Februari 2018.

Market Expectation

  • Apa bila mengikuti ulasan sebelumnya, kami sudah menyatakan sinyal - sinyal kekhawatiran akan global sell off. Dari sisivaluasi yang meningkat dan market behaviour atas ketidakpastian global monetary policy dalam menjawab recovery ekonomi dunia. Tekanan volatilitas pasar ini masih akan berlangsung dalam beberapa minggu kedepan, walaupun ada technical rebound lebih akan digunakan pelaku pasar untuk mengamankan posisi portofolionya. Adapun kata list yang dapat kembali membawa pasar saham global kembali dalam tren positif adalah terus meningkatnya fundamental earning dan reformasi US tax yang dapat mendorong upgrade  growth.
  • Bagi Indonesia, gejolak pasar global ini akan cukup berpengaruh. Namun sifatnya masih jangka pendek dan fokus utama yang perlu terus diperhatikan adalah potensi outflow khususnya di pasar obligasi dan pengaruhnya pada matauang Rupiah. Adapun pada pasa rsaham, potensi outflow elatif terbatas mengingat posisi asing yang sudah cukup underweight terhadap Indonesia selama tahun 2017 lalu. Ditambah dengan harapan akan consumer recovery yang sudah mulait erlihat pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal 4/2017 sebesar 5,19% yoy. Economic recovery dan consumer inflection point di tahun 2017 masih menjadi big theme di sepanjang 2018 ini. Next… sinyal-sinyal economic recovery dan pengaruhnya di pasar modal.




DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list