Investor Information

Weekly Market Update

Weekly Perspective - W2 Desember 2018
Para Pelaku pasar memperkirakan bahwa ekonomi Amerika akan memasuki masa resesi setelah selisih imbal hasil untuk yield tenor 2 dan level 5 tahun pada tanggal 7 Desember 2018 sebesar 2bps (secara historis yield spread tenor 2 dan 5 tahun sebesar 30-40 bps). Hal ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar memperkirakan akan ada risiko yang lebih besar dalam jangka pendek. Berdasarkan pengamatan Bloomberg dalam tiga resesi ekonomi terakhir di Amerika tahun 1990, 2001 dan 2007 rata-rata terjadinya inverted yield pada tenor 2 dan 5 tahun yaitu 18 bulan sebelum resesi dimulai sehingga diasumsikan resesi akan terjadi di tahun 2020. Ekspektasi adanya resesi juga diikuti oleh data pertumbuhan US- Non Farm Payroll bulan November 2018 sebesar 155K (konsensus: 190K) yang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya dan pertumbuhan ekonomi Amerika di Q4 2018 yang diperkirakan kembali melambat (Q2 18: 4.20% dan Q3 18: 3.50) sehingga pelaku pasar berkeyakinan bahwa kebijakan The Fed dalam menaikkan Fed Fund Rate di 2019 tidak akan seagresif di tahun 2018. Selain itu isu perang dagang Amerika dan China juga masih menjadi perhatian kedepannya pasca ditangkapnya Eksekutif Huawei (perusahaan telekomunikasi dari China) di Kanada atas permintaan dari Amerika karena diduga menjalin kerjasama bisnis dengan Iran akan kembali memanaskan hubungan dua negara tersebut.

Read more
Weekly Perspective - W4 November 2018
Harga minyak mentah WTI Crude selama sepekan terakhir periode 19 – 23 November 2018 melanjutkan penurunan yang sudah terjadi sejak akhir Oktober 2018 dari posisi USD 69,40 / barrel turun ke level USD 50.45 / barrel (level terendah sejak November 2017). Beberapa hal yang mendorong penurunan harga minyak diantaranya ekspektasi adanya perlambatan ekonomi global di tahun 2019 serta melimpahnya pasokan Minyak di pasar dari anggota OPEC dan Amerika. Di bulan Desember 2018 negara-negara anggota OPEC akan kembali mengadakan pertemuan dengan agenda membahas rencana untuk memangkas produksi agar harga Minyak kedepannya bisa stabil di kisaran USD 50 – 70 per barrel.

Read more
Weekly Perspective - W3 November 2018
Harga minyak mentah WTI Crude selama sepekan terakhir periode 12 – 17 November 2018 mengalami penurunan dari level USD 59.93 / barrel ke level USD 53.43/ barrel (level terendah sejak November 2017) melanjutkan penurunan yang terjadi di minggu sebelumnya. Penurunan harga Minyak dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya ekspektasi adanya perlambatan ekonomi global di tahun 2019 serta melimpahnya pasokan Minyak di pasar dari anggota OPEC dan Amerika. Penurunan harga Minyak memberikan sentimen positif untuk emerging market seperti Indonesia karena akan membuat biaya impor BBM berkurang yang tentunya akan memperbaiki posisi current account deficit (CAD) dan penguatan nilai mata uang Rupiah terhadap USD serta level inflasi sampai dengan akhir tahun 2018 bisa tetap dijaga di angka 3.50%.

Read more
Weekly Perspective - W2 November 2018
Selama sepekan terakhir periode 05 – 09 November 2018 nilai tukar mata uang Rupiah menguat signifikan terhadap USD dari level Rp 14,955/ USD pada minggu sebelumnya menguat hingga menyentuh level Rp 14,530/USD. Penguatan nilai tukar Rupiah didorong oleh sentimen positif dari global market seperti renegosiasi perdagangan antara Amerika dan China pada akhir November 2018, menurunnya harga minyak mentah dunia dan kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela Amerika sehingga menjadi mayoritas di House of Representative (DPR). Sedangkan dari sisi domestik pertumbuhan GDP Q3 2018 sebesar 5.17% (Q2 2018: 5.27%) mendapatkan respon positif dari pelaku pasar di tengah pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap USD dan kenaikan BI-7 Day Reverse Repo Rate 150 Bps ke 5.75%.

Read more