Monthly Update - June 2020

Market Summary

  • Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat 0,79% sepanjang bulan Mei 2020 menuju ke level 4.753 melanjutkan penguatan di bulan April 2020. Kenaikan didorong oleh rebound-nya saham-saham Blue chip di beberapa sektor, terutama Sektor Perbankan dan Barang Konsumsi. Kenaikan juga mengikuti trend pasar global yang membaik setelah rencana  stimulus di berbagai negara untuk menghidupkan kembali perekonomian dan suksesnya ‘Yield Control’ oleh bank sentral di negara-negara maju. Pembukaan ekonomi di negara Eropa setelah lockdown terlihat relatif lancar dan EU mempersiapkan pengaturan kebijakan fiskal setelah menghadapi COVID-19.

  • SUN 10 tahun bergerak menguat dan mendekati level 7,35% sepanjang akhir bulan Mei 2020. Tercatat aliran dana mulai memasuki kembali pasar Indonesia meski agak berbeda pada saat penurunan outlook peringkat hutang oleh S&P pada bulan sebelumnya. Foreign investor mencatatkan posisi flat dengan ownership di SUN saat ini masih sebesar 30,5%.

  • Nilai tukar Rupiah membaik, menguat ke level 14.800 mengikuti perbaikan yield emerging market di seluruh dunia. Tekanan jual terhadap SUN juga mereda dan dalam beberapa kali lelang terlihat cukup berhasil. Selain itu nilai tukar US dollar yang diwakili US Dollar Index  juga melemah terhadap major currencies. Melalui global bond, Indonesia bisa menaikkan cadangan devisa ke USD 127 miliar.

  • US Treasury dengan tenor 10 tahun bergerak relatif stabil masih tercatat di level 0,6-0,7%.

Perkembangan Global

  • Virus COVID-19 tercatat sebanyak 6,5 juta kasus secara global. Meski demikian terlihat flattening curve di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Negara Seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru dan Austalia sudah mulai membuka kembali kegiatan ekonominya.
  • International Monetary Fund (IMF) masih memperkirakan terjadi pertumbuhan ekonomi negatif sebesar -3% pada laporan outlook ekonomi global bulan April 2020. Dimana negara maju akan terkontraksi 6% sedangkan negara berkembang terkontraksi 1%. Namun tahun 2021 ekonomi global kembali tumbuh positif sebesar 5,8%.
  • Bank Sentral Amerika Serikat masih melanjutkan Quantitative Easing seperti halnya European Central Bank dan Bank of Japan, untuk menghindari terjadinya shock likuiditas di pasar. Sejauh ini “Yield Curve Controlling” dinilai cukup berhasil. (Yield Curve Controlling adalah usaha Bank Sentral untukmengontrol Yield tetap berada pada level yang dianggap normal).
  • Saatini juga terjadi recovery untuk harga minyak dunia yang sudah kembali mendekati level USD40 per barrel.

Perkembangan Domestik

  • Virus COVID-19 telah melewati angka 25.000 kasus di Indonesia. Pemerintah Indonesia yang telah mengeluarkan Perpu 1 Tahun 2020, telah disetujui menjadi Undang-undang. Pelaksanakan 10.000 tes/hari mulai dilaksanakan dalam rangka mendapatkan gambaran yang lebih baik untuk menghadapi pandemi ini. Penambahan kasus per hari saat ini berkisar kurang lebih 600 kasus baru. Setelah IdulFitri, pemerintah mulai berangsur merencanakan new normal untuk menjaga kegiatan ekonomi.
  • Inflasi April tercatat masih rendah sebesar 2,19% Year-on-Year. Harga relatif stabil karena kenaikan inflasi sebelum Idul fitri tidak terjadi tahun ini karena turunnya permintaan. Panen raya beras bulan Maret, April dan Mei juga berhasil menahan kenaikan harga beras.
  • Bank Indonesia masih mempertahankan suku bunga di level 4,5% dan telah diikuti penguatan nilai tukar Rupiah.
  • Data Industri belum terlihat membaik sampai dengan akhir April 2020 tercatat penjualan mobil, penjualan tiket pesawat, hunian hotel turun sampai dengan 90%. Ekonomi sektor jasa masih tertekan, namun sektor konsumsi masyarakat relatif stabil. Purchasing Managers Index pada bulan Mei juga tercatat di level 28,6, tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya.
  • Pemerintah Republik Indonesia memperkirakan budget deficit akans ebesar 6,4% meski dalam Undang-undang  sudah diizinkan untuk di atas limit normal di 3%. Pendapatan pemerintah juga diperkirakan akan turun menjadi sekitar IDR 1.700 triliun. Pemerintah memperkirakan pada bulanJuli, kehidupan mulai memasuki fase new normal dan secara bertahap akan melakukan re-opening kegiatan ekonomi.

Recovery setelah COVID-19

  • Perkiraan pemulihan ekonomi  setelah pandemi COVID-19 ini  sulit diperkirakan. Banyak hal yang mempengaruhi, seperti kekuatan fiskal masing-masing negara, penyelesaian masalah pandemi yang beragam, waktu recovery yang lama, serta pondasi dan struktur ekonomi masing-masing negara yang berbeda.
  • Tiongkok yang telah memulai membuka ekonominya juga tidak dapat melakukan ekspor dengan nilai yang sama karena kegiatan ekonomi counterpart mereka belum benar-benar pulih. Amerika Serikat juga masih belum dalam fase recovery dan demikian pula negara-negara Eropa. Kebijakan fiskal yang extraordinary telah diambil dengan konsekuensi yang besar juga terhadap ekonomi. Supply Chain juga terganggu antara China, Korea, Taiwan dan Amerika Serikat, serta negara Asia lainnya juga yang belum kembali seperti semula.
  • Kami memperkirakan pemulihan ekonomi akan cukup lambat untuk pasar global dan untuk masing-masing negara akan tergantung struktur ekonominya. Sebenarnya terdapat potensi Indonesia untuk bergerak cepat karena konsumsi adalah tulang punggung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Indonesia perlu menuntaskan masalah COVID-19 secepatnya dan re-opening ekonomi. Kami memperkirakan ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sebesar 2-3% pada tahun 2020. Kami menilai bahwa untuk dapat kembali ke level di atas 5%, Indonesia butuh recovery global.

Pasar Saham

  • Pasar Saham Indonesia telah rebound dari level terendah di 3.900 dan mulai menguat mendekati 5.000. Kami memperkirakan pasar akan dalam volatilitas yang tinggi kedepan. Keberhasilan menangani pandemi COVID-19 adalah katalis untuk bergerak naik. Valuasi saat ini berada pada 1,5 Price-to-Book Value. Kami menilai valuasi yang tepat untuk diterapkan pada pasar saham saat ini adalah dengan Price-to-Book Value karena Earning Visibility yang rendah dan potensi revert to normal yang tinggi pada tahun depan.
  • Para analis menilai pasar bisa bergerak menuju 5.300-5.800 dalam dua belas bulan kedepan, mengikuti perbaikan ekonomi dan potensi perbaikan laba emiten. Dengan potensi perusahaan-perusahaan dengan Balance Sheet yang baik akan menjadi lebih dominan dan menguasai pangsa pasar yang lebih besar.
  • Katalis positif akan timbul dari perbaikan pasar global dan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Pasar Obligasi

  • Pasar Obligasi berpotensi untuk recovery lebih awal dibanding Pasar Saham,  karena likuiditas global yang masih sangat akomodatif dan posisi relatif imbal hasil SUN 10 tahun Indonesia yang cukup menarik karena inflasi yang rendah dan secara relatif terhadap peers di negara berkembang.
  • Kami melihat potensi Yield setidaknya bertahan di level 7-7,5% dalam 12 bulan, 150bps dari JIBOR 1 tahun. Namun potensi penguatan akan tergantung recovery ekonomi dalam negeri. Secara relatif Yield 10 tahun Indonesia masih di atas peers terdekatnya IndONIA di 5,7%.
  • Katalis positif akan timbul dari kelanjutan likuiditas pasar global yang berlimpah, karena bisa mempengaruhi aliran dana modal, pergerakan nilai tukar Rupiah, perbaikan makro dan penanganan COVID-19 di Indonesia.

Disclaimer

INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat produk dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.

Download PDF


Back to list