Monthly Update September 2017

Market Review

Selama bulan Agustus 2017, IHSG bergerak volatile, sempat mengalami penurunan diawal bulan namun kemudian pada pertengahan Agustus 2017 mengalami kenaikan didorong sentimen easing yang akan dilakukan Pemerintah Indonesia. Diawali dengan langkah mengejutkan dari Bank Indonesia yang menurunkan suku bunga acuan 7day reverse repo rate sebesar 25 bps menjadi 4,5% pada 22 Agustus 2017. IHSG sempat menyentuh level tertingginya pada 5.915, namun kemudian mengalami profit taking dan ditutup pada level 5.864. Selama 1 bulan Agustus 2017, IHSG mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,4% namun akumulasi secara year to date (ytd) sudah mengalami kenaikan sebesar 10,7%. Investor asing masih mencatat kan net sell sebesar Rp 6,2 Triliun.


Penurunan suku bunga acuan BI, rendahnya inflasi, stabilitas politik dan makro ekonomi serta relatif kondusifnya likuiditas di pasar global, mendorong kenaikan harga obligasi yang signifikan. Abtrindo Index naik +2,19% selama Agustus 2017 atau akumulasi ytd mencapai 11,86%. Surat Utang Negara (SUN) tenor panjang seperti 15 dan 20 tahun yang mengalami kenaikan tertinggi. Investor asing lebih memilih pasar obligasi dibandingkan pasar saham, terlihat net buy asing mencapaiRp 9,6 triliun.

Market Expectation

Selanjutnya beberapa faktor pasar yang kita amati akan mempengaruhi pergerakan pasar antara lain : potensi kenaikan bunga The Fed pada FOMC meeting di bulan Sept 2017, sinyal The Fed akan normalisasi balance sheet, perkembangan indikator ekonomi AS, perdebatan terkait government shutdown, serta risiko geopolitik masih akan mendominasi pergerakan pasar.


Adapun dari sisi pasar domestik, penurunan laba emiten pada QQ2 tahun 2017 ini cukup mengecewakan pasar dan diikuti dengan serangkaian downgrade EPS. Namun dengan relatif rendahnya inflasi dan stabilitas mata uang Rupiah, maka masih membuka peluang akan penurunan suku bunga acuan BI. Selain itu, tone easing baik dengan melonggarkan likuiditas perbankan dan aturan pembelian properti, insentif pada industri manufacturing dan realisasi infrastructure spending diharapkan dapat menjadi katalist penggerak pasar.

Global Market

Risiko pasar global sering menjadi headline sebuah media dan menjadi alasan yang mendorong tekanan di pasar modal global dan begitupula pasar domestik. Apa saja serangkaian risiko pasar global yang perlu kita antisipasi: dari arah kebijakan moneter the Fed, dinamika PemrintahanTrump hingga risiko geopolitik.

Barometer Kesehatan Ekonomi AS

Bagaimana arah kebijakan moneter AS, apakah The Fed akan mengetatkan ekonomi? Baik berbentuk kenaikan suku bunga acuan (Fed Fund Rate) atau seberapa cepat normalisasi balance sheet. Kita dapat melihat sinyal-sinyal seberapa cepat monetary tightening akan dilakukan, dari perkembangan indikator ekonomi AS terkini dan juga statement yang disampaikan oleh The Fed mengenai apa yang menjadi perhatian The Fed ke depannya dan assessment terhadap perkembangan ekonomi terkini.

Recovery Pertumbuhan Ekonomi AS QQ2/2017

Pertumbuhan ekonomi AS pada QQ2/2017 mencapai 3,0% annualized qoq, naik dari sebelumnyahanya 1,2%. Kenaikan ini menunjukkan tren positif pada recovery ekonomi domestik. Dengan pertumbuhan Personal Consumption naik 3,3% dan Private investmentnaik 3,6%.

Inflasi AS Mengalami Penurunan, dibawah Target Inflasi The Fed

Level inflasi AS periode Agustus 2017 mencapai 1,7% yoy, dibawah level tertingginya diatas 2% pada periode JanApril 2017. Inflation expectation masih bergerak menurun seiring perlambatan momentum recovery AS. Dengan pemulihan ekonomi AS, The Fed sudah melakukan normalisasi dengan menaikkan suku bunga sebanyak 2 kali, masing-masing sebesar 25 bps menjadi 1,25%.

Pergerakan US Treasury Yield tenor 10 tahun Masih ada potensi kenaikan bunga The Fed sekali lagi menjadi 1,5% pada FOMC bulan Sept atau Des 2017.

Kenaikan bunga The Fed berjalan seiring pemulihan ekonomi AS. Sepanjang kenaikan bunga dilakukan secara bertahap (tidak agresif) maka tidak mendorong kekhawatirandi pasar (risk on).

Pelemahan Dollar Index, Menunjukkan Money Flow ke Riskier Assets
Sepanjang tahun 2017 ini, walaupun The Fed sudah melakukan kenaikan bunga The Fed, namun justru Dollar Index mengalami pelemahan signifikan sebesar 9% secara YTD, kembali ke level di bulan April-Mei 2016.
Pelemahan Dollar Index ini menyiratkan pasar masih optimis akan pemulihan ekonomi AS, namun tidak serta merta khawatir dengan pengetatan ekonomi (monetarytighteningstill far away).
Dinamika Pemerintahan Trump dan Dampaknya di Pasar Keuangan Global
Dinamika Pemerintahan Trump memang penuh kejutan dan kontroversial. Dari upaya mendorong kesepakatan trade agreement yang lebih baik, agenda reformasi pajak, pembangunan infrastruktur dan industrialisasi AS terus diperjuangkan. Diwarnai dengan berhentinya pejabat strategis dari Pemerintahan AS, yang sempat menjadi sentimen akan kestabilan dan kemampuan Pemerintahan Trump dalam menjalankan agenda reformasinya. Baru-baru ini rencana Trump untuk membangun border wall diperbatasan AS-Mexico masih menjadi perdebatan di KonggresAS, belum lagi rencana spending lainnya yang turut mendorongkenaikan budget AS.
Namun bagaimanapun juga Kongres AS perlu mengambil keputusan akan rencana spending dalam budget AS dan kembali menaikkan US debt ceiling. Apabila kesepakatan tidak berhasil diambil di akhir Sept 2017 ini maka dikhawatirkan government shut down akan terjadi, dimana Pemerintah AS kehabisan uang untuk mendanaikegiatan operasionalnya.
Level Hutang Pemerintah AS sudah menyentuh limit yang ditetapkan Kongres (US Debt Ceiling)
Level hutang AS sudah menyentuh level USD 19,8 Triliun, angka ini sudah di ambang batas debt limit sebesar USD 19,8 Triliun. Kongres AS meminta adanya pemotongan spending agar level hutang AS tidak bertambah terus tiap tahunnya.
Issue mengenai US Government Shutdown ini sudah terjadi setiap tahunnya, menjelang akhir tahun fiskal AS. Kami melihat dampaknya pada pasar keuangan global relatif terbatas, lebih berbentuk volatilitas jangka pendek.
Pertumbuhan Government Spending masih Negatif (-0.3% annualized qoq)

Selain itu kekhawatiran pasar bahwa government shutdown akan memberikan multiplier effect pada pemulihan ekonomi AS, juga kami nilai relatif terbatas. Mengingat ekonomi AS lebih bergantung pada pertumbuhan personal consumption dan investasi. Adapun kontribusi government spending masih menunjukkanpertumbuhannegatif.

Potensi kenaikan bunga The Fed dan sentimen normalisasi balance sheet serta perkembangan indikator ekonomi AS masih akan mendominasi pergerakanpasar dalam 3 bulan mendatang.

Domestic Market

Beberapa indikator ekonomi yang telah dirilis sepanjang tahun 2017 ini memperlihatkan big picture akan stabilitas makro ekonomi Indonesia yang terus membaik. Namun sayangnya stabilitas makro ekonomi ini belum didukung dengan pemulihan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Pertumbuhan konsumsi domestik masih belum memperlihatkan perkembangan signifikan, investasi sudah mulai meningkat namun belum cukup mendorong ekonomi, dan government spending malah mencatatkan pertumbuhan negatif. Akhirnya laba corporate secara umum malah menunjukkan penurunan pada QQ2/2017 ini. Lalu apakah ada ekspektasi positifuntuk beberapa bulan yang tersisadi akhir tahun 2017 ini.

Membaiknya Stabilitas Makro Ekonomi

Surplus Neraca Perdagangan selama 6 bulan Pertama di Tahun 2017

Selama 6 bulan pertama hingga Juni 2017, neraca perdagangan mencatatkan surplus dengan akumulasi sebesar USD 7,66 miliar. Terlihat adanya tren peningkatanekspor dan impor. Khusus periode bulan Juli 2017, terjadi defisit neraca perdagangan sebesar USD 271 juta didorong kenaikan impor pasca Lebaran, dimana aktivitas operasionalbisnis kembali normal.

Dengan meningkatnya surplus Neraca Perdagangan di sepanjang tahun 2017, maka Current Account Deficit (CAD) menunjukkan penurunan dari level USD 5,2 miliar pada QQ2/2016 menjadi USD 4,9 miliar pada QQ2/2017. Dari sudut perbandingan terhadap PDB Indonesia, rasio CAD terhadap PDB mengecil dari -2,15% menjadi -1,45% terhadap PDB.

Rupiah bergerak relatif stabil pada kisaran Rp 13.300-13.350/USD, walaupun suku bunga AS sudah mengalami kenaikan sebesar 50 bps. Penguatan diiringi peningkatan cadangan devisa yang mencapaiUSD 127,7 miliar. Hal ini menunjukkan Bank Indonesia menjaga level penguatan Rupiah dengan mengakumulasi USD dari system.

Stabilitas Makro Ekonomi dan Rendahnya Inflasi, Memberikan Ruang Gerak untuk Penurunan Suku Bunga

Inflasi Agustus 2017 mencatatkan penurunan sebesar 3,8% yoy dan bila dilihat secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,1%. Inflasi sepanjang tahun 2017 masih bergerak pada kisaran 3,5% yoy hingga level peak Lebaran 4,4% yoy. Inflasi masih terjaga rendah, walaupun Pemerintah sudah menaikkan tarif listrik dan administeredprice lainnya. Rendahnya inflasi, stabilnya Rupiah dan kondisi makro ekonomi, maka membuka ruang gerak bagi Bank Indonesia untuk kembali menurunkan suku bunga acuan.

Pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan Agustus 2017 lalu, BI mengambil langkah penurunan suku bunga acuan 7day reverse repo rate dari 4,75% menjadi 4,50%. Hal ini dilakukan BI untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang terlihat masih melambat. Kami menilai dampak penurunan suku bunga ini relatif terbatas dalam jangka pendek. Sifatnya lebih pada sentimen pasar dan menunjukkan langkah Pemerintah untuk mengakomodir perlambatan ekonomi.

Penurunan Inflasi dan Kondusifnya Pasar Global, Mendorong Penurunan Yield SUN

Harga Surat Utang Negara (SUN) mengalami kenaikan dengan rata-rata sebesar 1,5 – 1,9% selamaAug 2017. Kenaikan harga ini ditandai dengan penurunan yield SUN tenor 10 tahun dari 6,9% pada akhir Juli 2017 menjadi 6,69% pada akhir Agustus 2017. Ekspektasi penurunan yield SUN 10yr masih terbuka hingga ke level 6,4 - 6,5%, namun penurunan yield diestimasi terbatas, mengingat faktor global masih mendominasi menjelang FOMC Sept 2017 dan batas akhir US Gov shutdown.

Penurunan yield SUN ini merupakan akumulasidari serangkaian faktor,antara lain :

  • Kondisi pasar global yang kondusif, belum terlihat adanya pengetatan moneter AS. Inflasi AS dan yield US Treasury masihbergerak dilevel yang rendah.
  • Membaiknya stabilitas makro ekonomi, dengan stabilnya nilai Rupiah dan rendahnya tingkat inflasi serta potensipenurunan bunga acuan BI.
  • Upgrade sovereignrating Indonesia oleh S&P menjadi investmentgrade.
Apakah Ekonomi Domestik masih Melambat ?
Income per Kapita Menunjukkan Pertumbuhan yang Melambat

Income perkapita menunjukkan trend melambat. Hal ini seiring dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sempat menyentuh level terendahnya di QQ2 tahun 2015. Selain itu, depresiasi Rupiah yang terjadi selama 2013-2015 juga turut menyumbang perlambatanincome.

Recovery Pertumbuhan Ekonomi Diestimasi Bertahap (U-Shaped Recovery)

Pertumbuhan Ekonomi QQ2/2017 hanya mencapai 5,01% yoy, Flat Terhadap Periode Sebelumnya di QQ1/2017. Padahal QQ2 merupakan masa peak, bertepatan dengan Hari Raya Lebaran. Konsumsi domestik masih belum memperlihatkan perkembangansignifikan. Investasi sudah mulai meningkat namun belum cukup mendorongekonomi. Adapun government spending malah menunjukkan penurunan. Selain disebabkan aktivitas Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta juga bersamaan dengan pengajuan revisi APBN dan banyaknya libur Lebaran.

Indikator PerkembanganSektor Riil Masih Bersifat Mixed, Namun U-Shaped Recovery Diestimasi Masih On The Track

Laba Bersih Emiten dan Pertumbuhannya

Laba bersih emiten menunjukkan pemulihan selama 3 kuartal terakhir (QQ3 / 2016 hingga QQ1 / 2017).
Pemulihan pertumbuhan laba ini setelah sepanjang tahun 2015 dan semester 1/2016 mengalami pertumbuhan negatif.

Selanjutnya pada rilis laporan keuangan emiten QQ2 tahun 2017 ini, perlambatan pertumbuhan hingga pertumbuhan negatif kembali mendominasi. Khususnya pada sektor consumer goods, manufacturing / industry, trade services, property dan utilities. Adapun sektor yang mencatatkan pertumbuhan positif pada sektor Telco, Banking, sektor terkait infrastruktur dan eksposur pada ekspor komoditas(mining).

Walaupun perkembangan data masih bersifat mixed, namun kami melihat pemulihan ekonomi domestik masih on the track. Penurunan retail sales kami nilai lebih bersifat seasonality, mengingat level consumer confidence masih meningkat. Dimana peningkatan persaingan dari online sales mendorong bias pada penyajian data. Selain itu, pergeseran pola konsumsi dari food ke non food (kesehatan, pendidikan dan wisata) juga menjadi indikator bahwa geliat ekonomi masih berjalan

Market Expectation

Sentimen dan risiko pasar global masih akan mewarnai pergerakan pasar. Potensi kenaikan bunga The Fed pada FOMC meeting di bulan Sept 2017, sinyal The Fed akan normalisasi balance sheet, perkembangan indikator ekonomi AS, perdebatan terkait government shutdown, serta risiko geopolitik. Namun secara structurally,kami menilaiada perkembanganpositifpada ekonomiAS.

Hal tersebut sifatnya positif untuk meningkatkan demand ekspor dari berbagai negara lain di dunia, peningkatan laba emiten dan mendukung valuasi serta kenaikan harga saham. Adapun arah kenaikan bunga The Fed dan normalisasi balance sheet tetap akan terjadi ditengah pemulihan ekonomi, namun dilakukan secara bertahap sehingga diprediksi tidak mendorongtekananberlebihan di pasar.

Dari sisi pasar domestik, penurunan laba emiten pada QQ2 tahun 2017 ini cukup mengecewakan pasar dan diikuti dengan serangkaian downgrade EPS. Namun dengan relatif rendahnya inflasi dan stabilitas mata uang Rupiah, maka masih membuka peluang akan penurunan suku bunga acuan BI. Selain itu, tone easing baik dengan melonggarkan likuiditas perbankan dan aturan pembelian properti, insentif pada industri manufacturing dan realisasi infrastructure spending diharapkan dapat menjadi katalist penggerak pasar.

Adapun kenaikan harga obligasi yang sudah terjadi selama Agustus 2017 sebesar 2,19%, diprediksi masih berlanjut di bulan Sept 2017 ini. Level yield SUN tenor 10 tahun dari akhir Agustus 2017 sebesar 6,69% masih mengalami penurunan hingga ke level terendahnya 6,56%. Apalagi dengan meningkatnya demand di lelang SUN pada 5 Sept 2017 ini yang mencapai Rp 56,5 Triliun, diatas demand dari periode lelang sebelumnya Rp 46,3 Triliun dan rata-rata demand ytd Rp 38 Triliun. Namun demikian, kenaikan harga obligasi ini kami estimasi sudah relatif terbatas dengan ekspektasi yield SUN 10yr sekitar 6,4 – 6,5%. Pada level ini sudah relatif rawan profit taking. Mengingat faktor global masih mendominasi menjelang FOMC Meetingbulan Sept 2017.

Pada pasar saham, dengan melihat recovery pertumbuhan ekonomi masih berjalan maka ekspektasi kenaikan IHSG masih dipertahankan hingga ke level 5.950-6100. Alokasi portofolio tetap dipertahankan overweightpada kelas aset Saham untuk menangkap potensikenaikan harga aset selanjutnya.



DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.


Download PDF



Back to list