Monthly Update March 2017

Market Review

IHSG Underperformed Dibandingkan Kenaikan Harga Obligasi di Awal 2017

Sepanjang bulan Februari 2017, IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 1,7% ditutup pada level 5.387 dan sempat menyentuh level tertingginya 5.409 pada pertengahan Februari 2017. IHSG menunjukkan gerakan positif setelah selama Januari 2017 bergerak sideways (flat) dan cenderung ketinggalan bila dibandingkan kenaikan harga obligasi. 

Secara year to date (YTD), harga obligasi yang diwakili dengan Abtrindo Index naik 3,34% vs IHSG 1,7%.

IHSG mengalami kenaikan didorong rilisnya laporan keuangan emiten yang secara umum menunjukkan kinerja lebih baik dari perkiraan khususnya di sektor banking, telco, consumer dan mining. Selain itu Pilkada yang berjalan damai dan suasana politik dalam negeri yang relatif lebih kondusif juga turut mendukung pergerakan IHSG positif ditengah faktor risiko global yang penuh ketidakpastian.

Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp 10.2 Triliun setelah sebelumnya net sell Rp 805 miliar di bulan Januari 2017. Sektor aneka industri dan banking mencatatkan kenaikan tertinggi masing-masing sebesar +5.01% dan 3.24%.

Pasar Obligasi

Setelah mengalami kenaikan harga obligasi yang signifikan di bulan Januari 2017, pasar obligasi cenderung bergerak flat di bulan Februari 2017. Hal ini ditandai dengan pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang flat dikisaran 7,5-7,6%, setelah turun dari level 8,0% di akhir Des 2016.

Pergerakan yield SUN tenor 10 tahun dipengaruhi oleh beberapa faktor makroekonomi baik dari sisi domestik maupun global diantaranya upgrade outlook sovereign credit Indonesia dari stable menjadi positif oleh dua lembaga rating internasional yaitu Moody’s dan Fitch. Saat ini peringkat rating Indonesia yang diberikan oleh Moody’s adalah Baa3 (Investment Grade) dan Fitch Rating BBB- stable outlook.

Upgrade outlook rating ini memberikan sentiment positif, walaupun inflasi Indonesia bulan Februari 2017 menunjukkan kenaikan sebesar 0.23% mom dan 3.83% yoy dan ketidakpastian kenaikan bunga The Fed.

Selama bulan Februari 2017 Pemerintah mengadakan 4x lelang yang terdiri dari 2x lelang SUN dan 2x lelang sukuk. Lelang SUN yang berlangsung tanggal 14 Februari 2017 dengan total bid mencapai Rp 31 Triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 15 Triliun (bid cover 2.06x), sedangkan lelang SUN tanggal 28 Februari 2017, total bid yang masuk meningkat menjadi Rp 35 Triliun dan yang dimenangkan sebesar Rp 16,3 Triliun (bid cover 2.14x). Hasil lelang ini mengindikasikan bahwa minat investor asing untuk membeli SUN Indonesia masih cukup tinggi, hal ini ditopang oleh yield obligasi SUN yang masih sangat atraktif terhadap yield US Treasury 10 Years dibandingkan dengan negara-negara lainnya dan didukung prospek pemulihan ekonomi Indonesia. 

Hingga akhir Februari 2017, kepemilikan asing di pasar SUN mencapai Rp 691,9 triliun, atau setara dengan 37,5% dari total SUN yang beredar. Selama Year to Date (YTD) asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) Rp 26,1 triliun.

Market Outlook

Meningkatnya Ekspektasi akan Kenaikan Bunga The Fed

Menjelang pelaksanaan FOMC Meeting bulan Maret 2017, pasar obligasi global berpotensi mengalami tekanan khususnya dengan meningkatnya ekspektasi pasar akan kenaikan bunga The Fed sekitar 25-50 Bps. Berdasarkan konsensus Bloomberg, probabilitas kenaikan bunga The Fed di bulan Maret 2017 naik signifikan dari 50% menjadi 80%, didorong statement Trump dihadapan Konggres AS awal Maret 2017 ini yang menyiratkan upaya mendorong peningkatan pekerjaan di AS.

Negosiasi US Budget & Debt Ceiling

Awal masa Pemerintahan Trump akan segera diuji dengan negosiasi US budget dengan Kongress AS dan semakin dekatnya deadline pelunasan utang negara yang jatuh pada tanggal 15 Maret 2017. Hingga saat ini plafon utang (debt ceiling) Amerika Serikat mencapai $ 20 Triliun. 

Mendekati deadline dari plafon utang, US Treasury cenderung akan melakukan pemotongan saldo kas seperti yang terjadi pada bulan November 2015 yang memotong saldo kas dari $370 miliar menjadi $23 miliar. US Treasury bond tenor 10 tahun diprediksi memiliki kecenderungan  mengalami penurunan harga (yield naik). 

Utang US yang mencapai $20 Miliar akan mempersulit Trump untuk melakukan pemotongan pajak besar-besaran serta ekspansi belanja infrastruktur tanpa menambah beban hutang AS.  

Pasar masih menantikan bagaimana figur kebijakan fiskal dan pembahasan budget selama bulan Maret 2017 ini, termasuk rencana pemangkasan tarif pajak dan pembangunan infrastruktur.

Trend Kenaikan Inflasi Domestik & Potensi Kenaikan Bunga The Fed, Membatasi Penurunan Suku Bunga Acuan Bank Indonesia

Setelah mengalami periode penurunan inflasi di tahun 2016, memasuki kuartal 1 – tahun 2017 ini, inflasi cenderung mengalami peningkatan, untuk posisi hingga akhir Februari 2017 mencapai kenaikan 3.8% yoy.

Selain faktor low base dari tahun 2016, kenaikan administered price seperti kenaikan tarif dasar listrik di bulan Januari dan maret 2017 turut mendorong kenaikan inflasi. 

Dengan kenaikan inflasi dan potensi kenaikan bunga The Fed, Bank Indonesia (BI) diprediksi masih mempertahankan suku bunga acuannya (7-days reverse repo rate) di level 4.75%. BI terus menjaga stabilitas dan level volatilitas mata uang Rupiah terhadap USD ditengah ketidakpastian pasar.

Menariknya ditengah ketidakpastian pasar global, cadangan devisa Indonesia masih mencatatkan kenaikan positif, didorong arus modal (foreign inflow) khususnya di pasar obligasi.

Ekspektasi Upgrade Rating Indonesia dari S&P

Hingga review terakhir ditahun 2016, lembaga pemeringkat Standard & Poor’s (S&P) masih mempertahankan rating Indonesia BB+ (non investment grade). 

Selanjutnya pada review tahun 2017 ini, potensi Indonesia mendapat kenaikan rating investment grade dari S&P menjadi lebih besar lagi. Apalagi dengan Bank dunia sendiri telah menyatakan bahwa Indonesia berpeluang meraih peringkat layak investasi dari S&P. 

Hal tersebut didorong oleh fundamental ekonomi dalam negeri yang semakin membaik, komitmen Pemerintah dalam menjalankan reformasi subsidi, pengelolaan risiko fiskal dan recovery pada harga komoditas serta membaiknya level NPL perbankan.

Market Expectation

Ketidakpastian di pasar global masih belum mengalami perubahan. Pelaku pasar global masih cenderung cautious seiring potensi kenaikan bunga The Fed dalam FOMC meeting di pertengahan Maret 2017. Selain itu perkembangan negosiasi anggaran Pemerintah AS di bulan Maret 2017 juga turut mewarnai pergerakan pasar. Namun ditengah ketidakpastian itu, sentimen positif dari Indonesia khususnya datang dari harapan akan kenaikan rating Investment Grade dari S&P.

Dengan ekspektasi kenaikan rating Investment Grade maka pasar obligasi diprediksi bergerak positif, yang ditandai dengan masih meningkatnya inflow di pasar obligasi dan penurunan level yield Surat Utang Negara (SUN). Ditengah penurunan yield obligasi tersebut, tentunya potensi profit taking akan dilakukan pelaku pasar, namun trend positif akan terus berjalan hingga menjelang pengumuman review rating di bulan April-Mei 2017. Strategi Investasi obligasi di bulan Maret 2017 masih mempertahankan durasi di level menengah dengan sebagian besar alokasi pada obligasi SUN Benchmark untuk menjaga likuiditas dan alokasi pada corporate bonds untuk meminimalkan volatilitas dari risiko pasar global.

Seiring pergerakan positif di pasar obligasi, IHSG juga cenderung berpotensi mencatatkan level tertingginya di akhir QQ1/2017 khususnya pada saham-saham big caps yang menggerakkan indeks. Terlihat pada awal Maret 2017 ini, IHSG sudah beberapa kali melewati level 5.400. Investor disarankan tetap mendiversifikasi portofolio investasinya. Kesempatan untuk profit taking mengamankan keuntugan dapat dilakukan bertahap, namun alokasi investasi tetap dijaga overweight pada Reksadana Saham dan Obligasi.

DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.

Download PDF



Back to list