Monthly Update April 2017

Market Review

IHSG Rebound Setelah Kepastian Kenaikan Bunga The Fed

Akhirnya pada FOMC Meeting tanggal 15 Maret 2017, Bank Sentral AS (The Fed) kembali memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps ke kisaran 0.75 – 1.0%. Kenaikan ini merupakan kenaikan suku bunga yang ketiga kalinya sejak krisis finansial AS.

Kenaikan bunga The Fed didorong keyakinan akan pemulihan pertumbuhan ekonomi yang sustainable, kondisi ketenagakerjaan yang lebih baik dengan level unemployment rate dilevel 4,5 – 5% dan level inflasi yang diprediksi naik menuju target Bank Sentral sekitar 2%.

Pasar yang sebelumnya bersikap cautious, dengan kepastian kenaikan bunga ini, langsung bereaksi positif khususnya di emerging market seperti Indonesia.

Apalagi dengan statement yang dikeluarkan The Fed bahwa kenaikan suku bunga lanjutan akan dilakukan secara bertahap. The Fed berpandangan akan menaikan bunga sebanyak 2 kali lagi pada tahun ini.

Kenaikan di Pasar Modal

Kepastian akan kenaikan bunga The Fed mendorong penguatan IHSG sebesar +3,4% dari level 5.387 di akhir Februari 2017 dan berhasil ditutup pada level 5.568. Arus dana asing selama bulan Maret 2017 mencapai net buy sebesar Rp 10,5 Tn. Padahal selama bulan Januari-Februari 2017, asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 2,1 Tn. Inflow tertinggi terjadi di pertengahan Maret 2017 sebesar Rp 4,3 Tn selama 2 hari, setelah adanya kepastian bunga The Fed. Sektor Mining, Aneka Industri, Basic Industry dan Banking mencatatkan kenaikan di atas 5%.

Pada pasar obligasi selama bulan Maret 2017 juga bergerak sangat positif dengan kenaikan harga obligasi sebesar 2,5 – 3%. Hal ini ditandai dengan pergerakan yield SUN (Surat Utang Negara) tenor 10 tahun yang mengalami penurunan yield yang cukup signifikan dari awal Maret 2017 sebesar 7.56% menjadi 7.05% di akhir Maret 2017. Asing mencatatkan net buy sebesar Rp 31,3Tn.

Adapun pergerakan yield US Treasury selama bulan Maret 2017 justru mengalami kenaikan yang berkisar 2.35% 2.55%. Saat ini spread antara yield SUN tenor 10 tahun dengan US Treasury yield juga mengalami penurunan dari 510 Bps (Febr 2017) menjadi 466 Bps di akhir Maret 2017.


Market Outlook

Pilgub DKI Jakarta 2017, Earning Release & Inflow yang Mendukung Pergerakan Rupiah

Selain kepastian arah kenaikan bunga The Fed, kenaikan IHSG dan harga obligasi juga ditopang dengan ekspektasi akan upgrade rating dari lembaga pemeringkat rating S&P terhadap Indonesia menjadi investment grade di bulan Mei 2017. Dengan upgrade rating tersebut, capital inflow diprediksi akan meningkat masuk ke pasar Indonesia. Saat ini 2 lembaga pemeringkat lainnya yaitu Fitch dan Moody’s telah memberikan rating investment grade untuk Indonesia.

Menuju Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 putaran 2 yang akan berlangsung tanggal 19 April 2017. Sejauh ini belum terlihat manuver politik yang signifikan, kondisi politik masih sangat kondusif. Harapannya, setelah terpilihnya Gubernur DKI 2017 ini maka situasi akan semakin kondusif untuk perkembangan bisnis, khususnya dengan kepastian arah kebijakan Gubernur DKIyang baru.

Earning release tahun 2016 mencatatkan kinerja yang baik, dimana sekitar 6065% emiten mencatatkan kinerja in-line atau diatas konsensus Bloomberg. Kenaikan harga komoditas, penguatan Rupiah, pemulihan pertumbuhan volume penjualan dan biaya bunga yang lebih rendah turut memberikan kontribusi positif pada kinerja emiten. Selanjutnya pasar menantikan earning release QQ1/2017 ini untuk melihat apakah momentum pemulihan ekonomi masih berjalan solid.

Diluar ekspektasi pasar sebelumnya, mata uang Rupiah/USD menunjukkan penguatan, secara year to date (YTD) sudah menguat 3,3% dari level akhir Des 2017 sebesar Rp 13.784/USD menjadi Rp 13.326/USD di akhir Maret 2017. Cadangan devisa naik sebesar USD 1,9 Miliar menjadi USD 121,8 Miliar pada bulan Maret 2017 dari sebelumnya USD 119,9 Miliar, ini merupakan level tertinggi bila dibandingkan level peak di tahun 2012 dan 2014-2015.

Hal ini berlawanan dengan ekspektasi pasar dimana kekhawatiran kenaikan bunga The Fed dan kebijakan Trump akan semakin memberikan tekanan pada Rupiah di awaltahun 2017 ini.

Selanjutnya dengan melihat kondisi politik dan momentum pemulihan ekonomi ke depannya, maka Rupiah masih memiliki potensi menguat. Selain didukung faktor domestik juga dari sisi pasar global, pergerakan Dollar Index masih berpotensi melemah karena level saat ini belum kembali normalize dari level sebelum terpilihnya Trump di bulan Nov 2016.

Market Expectation

Setelah mengalami kenaikan tajam di pasar saham sebesar 3,37% dan pasar obligasi sebesar 2,5-3,5% di bulan Maret 2017, maka pertanyaan selanjutnya apakah kenaikan masih akan terjadi di bulan April 2017? Kami menilai pasar cenderung bergerak mixed. Potensi kenaikan pasar saham di bulan April 2017 masih ada, namun dengan level kenaikan yang lebih rendah, mengingat kenaikan tajam IHSG ke kisaran level 5.600-5.680 (valuasi PE Ratio 16,3x Est EPSY+1) sudah berada pada range diatas +1 Std deviasi. Hal ini cenderung mendorong profit taking dari sebagian investor, yang kami nilai wajar untuk mengamankan profit yang sudah didapat. Adapun setelah bulan Maret 2017, kenaikan lebih didorong saham-saham berkapitalisasi pasar besar seperti Banking, Telco, Astra (Aneka Industri) maka di bulan April 2017 ini kenaikan harga saham diprediksi akan rotasi ke saham-saham berkapitalisasi pasar medium-kecil dan mulai mengangkat beberapa sektor yang lagging di periode sebelumnya.

Adapun di pasar obligasi, aktivitas profit taking akan terlihat lebih tinggi dibandingkan pasar saham, mengingat hanya dalam 3 bulan (secara ytd), investor sudah memperoleh capital gain hingga 5%. Investor institusi sudah menunjukkan penjualan, walaupun investor asing masih mencatatkan net buy.

Potensi profit taking akan mewarnai aktivitas perdagangan di bulan April 2017 ini, namun kami terus mempertahankan view jangka menengah untuk potensi kenaikan harga seiring pemulihan ekonomi dan potensi upgrade rating ke depannya. Investor dapat merealisasikan sebagian keuntungannya secara bertahap dengan menempatkan dananya pada Reksadana Pasar Uang, namun porsi alokasi pada Reksadana Saham dan Obligasi tetap dijaga overweight, untuk menangkap potensi kenaikan harga aset selanjutnya.


DISCLAIMER INVESTASI MELALUI REKSA DANA MENGANDUNG RESIKO. CALON PEMODAL WAJIB MEMBACA DAN MEMAHAMI PROSPEKTUS SEBELUM MEMUTUSKAN UNTUK BERINVESTASI MELALUI REKSA DANA. KINERJA MASA LALU TIDAK MENCERMINKAN KINERJA MASA DEPAN.

PT Majoris Asset Management (“Majoris”) telah memperoleh izin usaha sebagai Manajer Investasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dalam melakukan kegiatannya diawasi oleh OJK. Dokumen ini dibuat oleh Majoris hanya sebagai informasi singkat dan disesuaikan dengan ketentuan Peraturan yang berlaku. Segala perhatian telah diberikan secara seksama untuk menyakinkan bahwa informasi yang disajikan dalam dokumen ini tidak menyesatkan. Namun demikian, Calon Pemodal tidak disarankan untuk hanya mengandalkan keterangan dalam dokumen ini. Kerugian yang mungkin timbul karenanya tidak akan ditanggung.



Download PDF



Back to list